Rabu, 11 November 2015

Memaknai kebebasan

Pict from Odin.com
Dalam berbagai kasus, kebebasan bagi sebagian kelompok dijadikan sebuah alasan dalam membenarkan diri untuk melakukan hal-hal yang mendobrak batasan moral  dan undang-undang syariat yang secara fitrah manusia membutuhkan hal tersebut.
Karena dari satu sudut pandang, mausia adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri atau bersosial dan dari sisi lain manusia adalah makhluk bertuhan yang menjadi dasar dalam segala aspek kehidupannya. Batsan moral dan syariat sejatinya adalah untuk memanusiakan manusia
bukan menjadikan manusia yang memiliki tabiat kehewanan. Salah besar ketika seseorang mengatakan bahwa batasan batasan tersebut adalah penghalang kebebasan baginya. Dan sebenarnya kebebasan yang mereka yakini baik sadar maupun tidak sadar adalah kebebasan yang diyakini oleh para Eksistensialis yang mengatakan bahwa “kesempurnaan bagi manusia adalah kebebasan mutlak” yaitu tanpa ada batasan. Maka tak jarang orang yang meyakini hal ini tidak pernah memperhatikan hak orang lain bahkan merampas hak orang lain mengatas namakan kebebasan, padahal disatu sisi dia tidak mau haknya diganggu atau dirampas oleh orang lain.
Seorang Ulama pemimpin revolusi Iran Imam Khomenei mengatakan “Kebebasan adalah terlepas dari kekangan yang menghalangi manusia untuk menuju kesempurnaan.”. di sini difahami bahwa tujuan kebebasan adalah kesempurnaan, dan segala sesuatu yang menghalangi kesempurnaan bererti menghalangi kebebasan. Adapun aturan moral, etika, syariat agama dan perintah-perintah yang terkandung didalamnya adalah bertujuan menghantarkan manusia kepada kesempurnaan.
Dan pada akhirnya kebabasan ini tidak akan lepas dari batasan-batasan ini (Moral dan Syariat) dan di waktu yang sama batasan ini bukan berarti mendistorsi makna kebebasan seseorang dalam hidupnya yang bebas berkehendak. Kita menyaksikan kelompok-kelompok yang mengkultuskan kebebasan yang tanpa batas terutama para humanis barat yang dengan prinsip seperti itu sesungguhnya mereka menuju kekacauan dan kehancuran. Maka tak heran seorang pemikir asal Iran Ali Syari’ti mengkritiknya dengan mengatakan bahwa ini adalah malapetaka manusia di zaman modern dan manusia itu hancur oleh pemikirannya sendiri.
Sebagai contoh lain yang salah dalam mengartikan kebebasan, kita lihat para pemuda, media mainstream, pemerintah dan juga tokoh agama yang berambisi sampai pada tujuannya tanpa memperhatikan batasan-batasan moral dan agama. Maka yang dihasilkan hanyalah kekacauan, dekadensi moral, perselisihan, permusuhan dan lainnya yang semua itu jauh dari kesempurnaan manusia  dalam individu ataupun masyarakat.
Kita semua menyadari bahwa fitrah manusia adalah mencintai kesempurnaan, dan kebebasan seperti yang mereka yakini ini malah menjauhkan mereka dari kesempurnaan. Dan hanya orang-orang yang cuti nalar yang menerima kebebasan dalam konteks seperti ini.

Hendaknya kita memahami kebebasan yang mengantarkan kita kepada kesempurnaan bukan malah menjauhkan kita darinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar