![]() |
| Pict from Odin.com |
bukan menjadikan manusia yang memiliki tabiat kehewanan. Salah besar ketika seseorang mengatakan bahwa batasan batasan tersebut adalah penghalang kebebasan baginya. Dan sebenarnya kebebasan yang mereka yakini baik sadar maupun tidak sadar adalah kebebasan yang diyakini oleh para Eksistensialis yang mengatakan bahwa “kesempurnaan bagi manusia adalah kebebasan mutlak” yaitu tanpa ada batasan. Maka tak jarang orang yang meyakini hal ini tidak pernah memperhatikan hak orang lain bahkan merampas hak orang lain mengatas namakan kebebasan, padahal disatu sisi dia tidak mau haknya diganggu atau dirampas oleh orang lain.
Seorang Ulama pemimpin revolusi Iran Imam Khomenei mengatakan “Kebebasan
adalah terlepas dari kekangan yang menghalangi manusia untuk menuju
kesempurnaan.”. di sini difahami bahwa tujuan kebebasan adalah
kesempurnaan, dan segala sesuatu yang menghalangi kesempurnaan bererti
menghalangi kebebasan. Adapun aturan moral, etika, syariat agama dan
perintah-perintah yang terkandung didalamnya adalah bertujuan menghantarkan
manusia kepada kesempurnaan.
Dan pada akhirnya kebabasan ini tidak akan lepas dari batasan-batasan ini
(Moral dan Syariat) dan di waktu yang sama batasan ini bukan berarti
mendistorsi makna kebebasan seseorang dalam hidupnya yang bebas berkehendak.
Kita menyaksikan kelompok-kelompok yang mengkultuskan kebebasan yang tanpa
batas terutama para humanis barat yang dengan prinsip seperti itu sesungguhnya
mereka menuju kekacauan dan kehancuran. Maka tak heran seorang pemikir asal
Iran Ali Syari’ti mengkritiknya dengan mengatakan bahwa ini adalah malapetaka
manusia di zaman modern dan manusia itu hancur oleh pemikirannya sendiri.
Sebagai contoh lain yang salah dalam mengartikan kebebasan, kita lihat para
pemuda, media mainstream, pemerintah dan juga tokoh agama yang berambisi sampai
pada tujuannya tanpa memperhatikan batasan-batasan moral dan agama. Maka yang
dihasilkan hanyalah kekacauan, dekadensi moral, perselisihan, permusuhan dan
lainnya yang semua itu jauh dari kesempurnaan manusia dalam individu ataupun masyarakat.
Kita semua menyadari bahwa fitrah manusia adalah mencintai kesempurnaan,
dan kebebasan seperti yang mereka yakini ini malah menjauhkan mereka dari
kesempurnaan. Dan hanya orang-orang yang cuti nalar yang menerima kebebasan
dalam konteks seperti ini.
Hendaknya kita memahami kebebasan yang mengantarkan kita kepada
kesempurnaan bukan malah menjauhkan kita darinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar