Selasa, 03 November 2015

Kembali Pada Quran




Bagi sebagian masyarakat awam, simpang siurnya informasi dari perselisihan Sunni dan Syiah yang sedang melanda Indonesia dan sedang merangkak menuju titik klimaks ini menyebabkan kebingungan antara mana yang benar dan mana yang salah, media mana yang dapat dipercaya dan mana yang tidak, apakah ini murni masalah mazhab ataukah agenda politik
yang menjadikan agama sebagai pelana untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dan lain sebagainya. Sehingga diangkatlah kelompok sektarian Sunni-Syiah-Wahabi yang satu sama lain saling berselisih.
Sebagai manusia yang sudah dikaruniai akal dan pikiran maka solusi dari semua ini adalah menggunakan Akal sehat dan pikiran yang jernih dalam memilih informasi yang diperoleh. Seperti dalam syair Arab dikataka “tidak ada pemberian yang lebih besar dari akal dan adab, keduanya adalah sumber kehidupan bagi manusia, ketika seseorang kehilangan keduanya maka kematian adalah lebih utama baginya.”. Ini adalah salah satu tujuan kenapa Allah swt banyak menekankan kepada kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita (afalaa ta’qilun, afalaa tadabbarun, afalaa tatafakarun...), penekanan dalam penggunaan akal ini diulang sampai ratusan kali di dalam al-Quran supaya manusia tidak lengah dalam menggunakan akalnya. Dan maksud akal disini tentunya yang belum terkontaminasi apapun baik fanatisme, radikalisme atau ta’assub yang melumpuhkan akal.
Setelah akal bebas dari kekangan seperti ini maka kembalilah kepada Quran yang menjadi pedoman kita dan sebagai neraca kebenaran bagi kita yang dengannya kita bisa menimbang dan menilai kebenaran sebuah informasi atau si penyampai informasi. Ini adalah langkah supaya kita tidak terjerumus kedalam perangkap dan secara tidak sadar menyampaikan Informasi salah yang menghancurkan kebenaran dan memperbesar perselisihan yang terjadi.
Bagaimana alQuran mengajari kita supaya tidak terseret kepada kesalahan fatal ini?
Allah swt berfirman : “dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untu menjadi rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya : 107)  Pertama yang harus kita sadari adalah pentingnya memiliki sifat rahmat untuk sekitar kita layaknya Nabi kita yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, hal itu dikarenakan agama yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah agama rahmat bukan agama kedengkian, kekerasan dan intoleransi. Dengan ayat ini, maka setiap informasi yang menjurus kepada intoleransi dan kedengkian pada sesama harus kita tolak. Maka kita tidak akan terjerumus kepada permusuhan dan kebencian diantara sesama muslim seperti dikatakan dalam Quran  (al-Maidah : 91)  : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu.”.
Inilah ambisi syetan dalam menghancurkan kita, dan mereka yang mengumbar permusuhan terutama pada sesama muslim adalah kaki tangan syetan. Dan objek nyata yang merupakan kaki tangan syetan di bumi kita adalah Zionist. Mereka adalah sumber dari segala perselisihan yang ada karena mereka menginginkan kehancuran Islam, salah satu caranya adalah menyalakan api perselisihan dalam tubuh Islam itu sendiri yaitu Muslimin. Setiap individu atau kelompok “Muslim baik Sunni atau Syiah” yang senang memunculkan permusuhan dengan menyebarkan fitnah dan berlaku intoleran, maka sejatinya dia adalah para pengikut Zionist seperti yang dikatakan Rahbar atau pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Imam Khamene’i bahwa mereka itu berperan sebagai pemulus jalan imperialis dalam melucuti islam.
Zionist yang notabene adalah yahudi mereka adalah yang paling berhasrat menghancurkan Agama Islam, paling keras permusuhannya terhadap Islam dan tidak akan diam sebelum melihat kehancuran Islam. Allah swt berfirman : “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang yang beriman adalah Yahudi dan orang-orang Musyrik...” (al-Maidah : 82). Dan terakhir yang diajarkan Quran kepada kita adalah hendaklah selalu bertabayun dan meneliti sebuah informasi sebelum menyebarkannya, karena fenomena yang terjadi di dunia maya (FB, Twitter dll) adalah mereka menyebarkan sebuah berita tanpa memperhatikan konten dari berita tersebut hanya untuk mendapatkan like dari teman dunia mayanya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat : 6).
Kembalilah pada Quran...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar