Bagi sebagian masyarakat awam, simpang siurnya informasi dari perselisihan
Sunni dan Syiah yang sedang melanda Indonesia dan sedang merangkak menuju titik
klimaks ini menyebabkan kebingungan antara mana yang benar dan mana yang salah,
media mana yang dapat dipercaya dan mana yang tidak, apakah ini murni masalah
mazhab ataukah agenda politik
yang menjadikan agama sebagai pelana untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dan lain sebagainya. Sehingga diangkatlah kelompok sektarian Sunni-Syiah-Wahabi yang satu sama lain saling berselisih.
yang menjadikan agama sebagai pelana untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dan lain sebagainya. Sehingga diangkatlah kelompok sektarian Sunni-Syiah-Wahabi yang satu sama lain saling berselisih.
Sebagai manusia yang sudah dikaruniai akal dan pikiran maka solusi dari
semua ini adalah menggunakan Akal sehat dan pikiran yang jernih dalam memilih
informasi yang diperoleh. Seperti dalam syair Arab dikataka “tidak ada
pemberian yang lebih besar dari akal dan adab, keduanya adalah sumber kehidupan
bagi manusia, ketika seseorang kehilangan keduanya maka kematian adalah lebih
utama baginya.”. Ini adalah salah satu tujuan kenapa Allah swt banyak
menekankan kepada kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita (afalaa
ta’qilun, afalaa tadabbarun, afalaa tatafakarun...), penekanan dalam
penggunaan akal ini diulang sampai ratusan kali di dalam al-Quran supaya
manusia tidak lengah dalam menggunakan akalnya. Dan maksud akal disini tentunya
yang belum terkontaminasi apapun baik fanatisme, radikalisme atau ta’assub yang
melumpuhkan akal.
Setelah akal bebas dari kekangan seperti ini maka kembalilah kepada Quran
yang menjadi pedoman kita dan sebagai neraca kebenaran bagi kita yang dengannya
kita bisa menimbang dan menilai kebenaran sebuah informasi atau si penyampai
informasi. Ini adalah langkah supaya kita tidak terjerumus kedalam perangkap
dan secara tidak sadar menyampaikan Informasi salah yang menghancurkan
kebenaran dan memperbesar perselisihan yang terjadi.
Bagaimana alQuran mengajari kita supaya tidak terseret kepada kesalahan
fatal ini?
Allah swt berfirman : “dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad)
melainkan untu menjadi rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya : 107) Pertama yang harus kita sadari adalah
pentingnya memiliki sifat rahmat untuk sekitar kita layaknya Nabi kita yang
diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, hal itu dikarenakan agama yang dibawa
Nabi Muhammad saw adalah agama rahmat bukan agama kedengkian, kekerasan dan
intoleransi. Dengan ayat ini, maka setiap informasi yang menjurus kepada
intoleransi dan kedengkian pada sesama harus kita tolak. Maka kita tidak akan
terjerumus kepada permusuhan dan kebencian diantara sesama muslim seperti dikatakan
dalam Quran (al-Maidah : 91) : “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu.”.
Inilah ambisi syetan dalam menghancurkan kita, dan mereka yang mengumbar
permusuhan terutama pada sesama muslim adalah kaki tangan syetan. Dan objek
nyata yang merupakan kaki tangan syetan di bumi kita adalah Zionist. Mereka
adalah sumber dari segala perselisihan yang ada karena mereka menginginkan
kehancuran Islam, salah satu caranya adalah menyalakan api perselisihan dalam
tubuh Islam itu sendiri yaitu Muslimin. Setiap individu atau kelompok “Muslim
baik Sunni atau Syiah” yang senang memunculkan permusuhan dengan menyebarkan
fitnah dan berlaku intoleran, maka sejatinya dia adalah para pengikut Zionist
seperti yang dikatakan Rahbar atau pemimpin tertinggi Republik Islam Iran Imam
Khamene’i bahwa mereka itu berperan sebagai pemulus jalan imperialis dalam
melucuti islam.
Zionist yang notabene adalah yahudi mereka adalah yang paling berhasrat
menghancurkan Agama Islam, paling keras permusuhannya terhadap Islam dan tidak
akan diam sebelum melihat kehancuran Islam. Allah swt berfirman :
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap
orang yang beriman adalah Yahudi dan orang-orang Musyrik...” (al-Maidah : 82). Dan
terakhir yang diajarkan Quran kepada kita adalah hendaklah selalu bertabayun
dan meneliti sebuah informasi sebelum menyebarkannya, karena fenomena yang
terjadi di dunia maya (FB, Twitter dll) adalah mereka menyebarkan sebuah berita
tanpa memperhatikan konten dari berita tersebut hanya untuk mendapatkan like
dari teman dunia mayanya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang
seorang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (al-Hujurat : 6).
Kembalilah pada Quran...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar