Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca
komentar dari pak Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenai keberadaan ISIS yang
semakin meluas. Seakan-akan ingin mengingatkan kita akan bahayanya organisasi
tersebut Beliau mengatakan “Yang terjadi selama ini, ISIS itu gabungan dari
masalah politik dan ekonomi. Banyak Negara hancur karena lemahnya dua hal itu.
Ajaran-ajaran semacam itu sama dengan virus penyakit.”
ISIS… Ketika mendengar satu kata ini
maka fikiran kita akan langsung dirasuki gambaran-gambaran kebengisan,
kekejaman dan kebiadaban yang meskipun kata tersebut tidak bisa mewakili
sepenuhnya sifat dan karakter penuh kontroversial dari individu-individu yang
tergabung dalam sebuah organisasi ‘Islam’ yang bernama ISIS. Namun kita sebagai orang awam, terkadang juga
dibingungkan dengan slogan-slogan Islami mereka seperti Takbir, Mengatasnamakan
Amar Makruf Nahi Munkar, Jihad melawan segala kekafiran di muka bumi ini serta
tak jarang mereka pun dengan lantang berdalil dengan Ayat-ayat yang ada dalam
al-Quran untuk menjustifikasi perbuatan-perbuatan yang tidak manusiawi yang mereka lakukan. Dan mungkin ini juga
yang menjadi sebuah magnet yang menarik sebagian masyarakat Indonesia untuk
bergabung bersama mereka.
Di sisi lain kita pun melihat atau
mendengar adanya opini-opini dari
oposisi terkait masalah ini, mereka mengatakan bahwa ada peran politik Amerika
Serikat, Zionist dan beberapa Negara Kawasan timur tengah dibalik terlahirnya
ISIS. Ataupun pendukung ISIS yang mengatakan munculnya mereka adalah untuk
memusnahkan dominasi rezim Syiah di
Timur Tengah terutama Suriah yang
merupakan cikal bakal munculnya Organisasi ini dan untuk menjadikan Negara
Islami yang berbasis Khalifah yang dipimpin oleh seorang Abu Bakar al-Bagdadi.
Terlepas dari itu semua, mari kita
lihat Islam secara lebih luas dan universal dimana Islam tidak sesempit yang
kita fikirkan yang hanya memiliki dimensi tekstual (Quran dan Hadits) saja
dalam hal ini yang tak jarang memunculkan berbagai perbedaan penafsiran yang
mengakibatkan terjadinya perpecahan
kedalam berbagai kelompok beserta perselisihan di dalamnya. Salah satu
contohnya adalah terbentuknya Daulah Islam ini yang pada dasarnya merekan
mendasarkan pemikiran mereka pada al-Quran terlepas benar atau tidaknya mereka
menafsirkan pean-pesan suci al-Quran yang menjadi “landasan” mereka. Dan perlu
kita ingat, selain itu kita harus melihat Islam dalam dimensi
kontekstual/realitas yakni kita jangan lupa bahwa Islam bersama kejayaannya di
masa lalu sampai sekarang ini tidak lepas dari peran sejarah dari awal munculnya Agama Illahi ini. Mari
kita lihat bagaimana Nabi pembawa Risalah menyebarkan Agama Ilahi ini, dan meri
kita lihat juga jalan apa yang beliau tempuh sehingga Islam bisa diterima
masyarakat luas dan menjadi agama yang paling berpengaruh di muka bumi.
Maka dari sanalah kita bisa mengambil
kesimpulan apakah organisasi ini sesuai dengan jalan Islam atau hanya agenda
poltik saja sesuai dengan opini pertama tadi. Karena kalau kita bersandar pada
dalil Quran yang mereka bawa dan tidak menjadikan taladan nabi sebagai bagian
dari mizan kebenaran maka kita akan kebingungan bagaimana Isis ini sebenarnya
didalam Islam. Jika kesimpulan yang kita dapat adalah agenda politik belaka,
tapi kenapa banyak dari saudara kita yang bergabung dan rela meninggalkan
keluarganya demi ‘berjihad’ bersama mereka?
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad
menyebarkan agama ini dengan Rahmat dan kasih sayang dan semua sepakat bahwa
kalau bukan dengan cara seperti ini niscaya Islam tidak akan menyebar luas
seperti sekarang ini. Seorang orientalis Jerman Bretly Hiler mengatakan
“Muhammad adalah seorang kepala Negara dan punya perhatian besar kepada
kehidupan rakyat dan kebebasannyaNabi ini adalah seorang penyeru kepada Agama
Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam dakwahnya, dia menggunakan cara yang lembut dan
santun meskipun dengan musuh-musuhnya. Pada kepribadiannya ada dua sifat yang
paling utama dimiliki oleh jiwa manusia. Keduanya adalah keadilan dan Kasih
Sayang.”
Pendapat ini menggambarkan Kasih sayang
adalah jalan yang ditempuh Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan Agamanya yang
dengan perilaku seperti ini bisa melembutkan hati-hati yang keras masyarakat
pada jamannya hingga sekarang dan ini adalah sebab yang menjadi kesuksesan
beliau. Sesuai dengan Firman Allah swt dalam Quran-Nya : “Maka berkat
rahmat Allah engkau (Muhammad) berperilaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu. …” Q.S Ali Imron : 159.
Semua kalangan baik Muslim maupun
non-Muslim mengakui kebesaran Muhammad saw, beliau adalah manusia agung yang
penuh rahmat dan kasih sayang terhadap sesamanya. Michael Heart penulis 100
orang paling berpengaruh dalam sejarah
menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad menjadi yang pertama yang
terpenting dan teragung karena dia adalah satu-satunya dalam semua sejarah yang
sukses dengan kesuksesan yang sangat tinggi pada tingkat agama dan dunia dengan
Akhlak beliau yang mulia.
Kembali kepada komentar pak Jusuf
Kalla, di akhir komentar beliau mengingatkan “Indonesia harus menjadi Negara
yang kuat baik dalam ekonomi, politik maupun ideologi” dan kita sebagai
Masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas den memiliki ideology
yang kuat sehingga tidak mudah dirasuki oleh virus yang berkedok agama ini. Dan
sebagai Muslim yang cerdas kita harus selalu ingat bahwa kita memiliki teladan
sempurna untuk semua zaman…
Wallohu A’lam…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar