Minggu, 26 April 2015

Kenalilah “Virus Baru di Bumi Pertiwi”

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca komentar dari pak Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenai keberadaan ISIS yang semakin meluas. Seakan-akan ingin mengingatkan kita akan bahayanya organisasi tersebut Beliau mengatakan “Yang terjadi selama ini, ISIS itu gabungan dari masalah politik dan ekonomi. Banyak Negara hancur karena lemahnya dua hal itu. Ajaran-ajaran semacam itu sama dengan virus penyakit.”
ISIS… Ketika mendengar satu kata ini maka fikiran kita akan langsung dirasuki gambaran-gambaran kebengisan, kekejaman dan kebiadaban yang meskipun kata tersebut tidak bisa mewakili sepenuhnya sifat dan karakter penuh kontroversial dari individu-individu yang tergabung dalam sebuah organisasi ‘Islam’ yang bernama ISIS.  Namun kita sebagai orang awam, terkadang juga dibingungkan dengan slogan-slogan Islami mereka seperti Takbir, Mengatasnamakan Amar Makruf Nahi Munkar, Jihad melawan segala kekafiran di muka bumi ini serta tak jarang mereka pun dengan lantang berdalil dengan Ayat-ayat yang ada dalam al-Quran untuk menjustifikasi perbuatan-perbuatan yang tidak manusiawi  yang mereka lakukan. Dan mungkin ini juga yang menjadi sebuah magnet yang menarik sebagian masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama mereka.
Di sisi lain kita pun melihat atau mendengar  adanya opini-opini dari oposisi terkait masalah ini, mereka mengatakan bahwa ada peran politik Amerika Serikat, Zionist dan beberapa Negara Kawasan timur tengah dibalik terlahirnya ISIS. Ataupun pendukung ISIS yang mengatakan munculnya mereka adalah untuk memusnahkan  dominasi rezim Syiah di Timur Tengah terutama  Suriah yang merupakan cikal bakal munculnya Organisasi ini dan untuk menjadikan Negara Islami yang berbasis Khalifah yang dipimpin oleh seorang Abu Bakar al-Bagdadi.
Terlepas dari itu semua, mari kita lihat Islam secara lebih luas dan universal dimana Islam tidak sesempit yang kita fikirkan yang hanya memiliki dimensi tekstual (Quran dan Hadits) saja dalam hal ini yang tak jarang memunculkan berbagai perbedaan penafsiran yang mengakibatkan  terjadinya perpecahan kedalam berbagai kelompok beserta perselisihan di dalamnya. Salah satu contohnya adalah terbentuknya Daulah Islam ini yang pada dasarnya merekan mendasarkan pemikiran mereka pada al-Quran terlepas benar atau tidaknya mereka menafsirkan pean-pesan suci al-Quran yang menjadi “landasan” mereka. Dan perlu kita ingat, selain itu kita harus melihat Islam dalam dimensi kontekstual/realitas yakni kita jangan lupa bahwa Islam bersama kejayaannya di masa lalu sampai sekarang ini tidak lepas dari peran sejarah  dari awal munculnya Agama Illahi ini. Mari kita lihat bagaimana Nabi pembawa Risalah menyebarkan Agama Ilahi ini, dan meri kita lihat juga jalan apa yang beliau tempuh sehingga Islam bisa diterima masyarakat luas dan menjadi agama yang paling berpengaruh di muka bumi.
Maka dari sanalah kita bisa mengambil kesimpulan apakah organisasi ini sesuai dengan jalan Islam atau hanya agenda poltik saja sesuai dengan opini pertama tadi. Karena kalau kita bersandar pada dalil Quran yang mereka bawa dan tidak menjadikan taladan nabi sebagai bagian dari mizan kebenaran maka kita akan kebingungan bagaimana Isis ini sebenarnya didalam Islam. Jika kesimpulan yang kita dapat adalah agenda politik belaka, tapi kenapa banyak dari saudara kita yang bergabung dan rela meninggalkan keluarganya demi ‘berjihad’ bersama mereka?
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad menyebarkan agama ini dengan Rahmat dan kasih sayang dan semua sepakat bahwa kalau bukan dengan cara seperti ini niscaya Islam tidak akan menyebar luas seperti sekarang ini. Seorang orientalis Jerman Bretly Hiler mengatakan “Muhammad adalah seorang kepala Negara dan punya perhatian besar kepada kehidupan rakyat dan kebebasannyaNabi ini adalah seorang penyeru kepada Agama Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam dakwahnya, dia menggunakan cara yang lembut dan santun meskipun dengan musuh-musuhnya. Pada kepribadiannya ada dua sifat yang paling utama dimiliki oleh jiwa manusia. Keduanya adalah keadilan dan Kasih Sayang.”
Pendapat ini menggambarkan Kasih sayang adalah jalan yang ditempuh Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan Agamanya yang dengan perilaku seperti ini bisa melembutkan hati-hati yang keras masyarakat pada jamannya hingga sekarang dan ini adalah sebab yang menjadi kesuksesan beliau. Sesuai dengan Firman Allah swt dalam Quran-Nya : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berperilaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. …” Q.S Ali Imron : 159.
Semua kalangan baik Muslim maupun non-Muslim mengakui kebesaran Muhammad saw, beliau adalah manusia agung yang penuh rahmat dan kasih sayang terhadap sesamanya. Michael Heart penulis 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah  menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad menjadi yang pertama yang terpenting dan teragung karena dia adalah satu-satunya dalam semua sejarah yang sukses dengan kesuksesan yang sangat tinggi pada tingkat agama dan dunia dengan Akhlak beliau yang mulia.
Kembali kepada komentar pak Jusuf Kalla, di akhir komentar beliau mengingatkan “Indonesia harus menjadi Negara yang kuat baik dalam ekonomi, politik maupun ideologi” dan kita sebagai Masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang cerdas den memiliki ideology yang kuat sehingga tidak mudah dirasuki oleh virus yang berkedok agama ini. Dan sebagai Muslim yang cerdas kita harus selalu ingat bahwa kita memiliki teladan sempurna untuk semua zaman…

Wallohu A’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar