Kamis, 19 Maret 2015

Dunia Ini Adalah Panggung Sandiwara

Dikelas beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah kalimat dari sang Ustadz yang mungkin dan menurut saya memiliki realitas di kehidupan sekarang ini yang terjadi pada kebanyakan orang. Kalimat itu adalah “bagi manusia sekarang kehidupan sudah menjadi abstrak dan berganti tempat dintara hakikat dan permainan.” Artinya realita di zaman sekarang

sesuatu yang harusnya disikapi dengan sungguh-sungguh dianggap sesuatu yang tidak memiliki makna atau nilai di hadapan mereka adapun permainan-permainan yang pada hakikatnya tidak ada nilai apa-apa disikapi dengan sedemikian rupa sehingga itu seakan-akan sangat penting bagi hidupnya untuk dibela dan dipertahankan.
Apakah kalian sepakat dengan kata-kata tadi? Pasti sepakat karena bagi sebagian orang hal ini sudah benar-benar terjadi. Mari kita lihat ke sekeliling kita, dimulai lingkungan sekitar, apakah kalian lihat seseorang ketika berpacaran mereka berprilaku manis terhadap pasangannya dan rela berkorban sehingga pasangannya merasa bahagia, Tapi ketika sudah menikah mereka acuh tak acuh terhadap kebahagiaan istri dan keluarganya? Tidak Terbalik kah? Atau lebih jauh lagi, apakah kalian pernah lihat orang yang santai-santai dan menganggap tidak ada apa-apa ketika kehormatan agamanya yang terinjak-injak namun mereka bereaksi keras dan tak jarang terjadi keributan fisik ketika tim kesayangannya dihinakan atau ada yang mengolok-olok dengan alasan membela tim kesayangan? Pasti jawaban semuanya “ya”, termasuk saya, dan itu hanya beberapa dari sekian peristiwa yang seperti kejadian di atas.
Dengan adanya hal ini saya jadi teringat dengan sebuah kalimat “bijak” katanya yang mengatakan Hidup ini adalah panggung sandiwara dan kalian pasti tahu juga karena kalimat ini begitu masyhur di kalangan masyarakat Indonesia sampai dijadikan sebuah judul lagu yang juga sangat masyhur dikalangan kita para pemuda maupun orang tua. Pasti tahu teman-teman semuanya kan…
 Saya berfikir sejenak di ruangan yang seperti tidak ada penghuninya ini. Buku yang tidak pada tempatnya, meja dan kursi yang tidak bersahabat lagi dan saling menjauh, pakaian, alat tulis, perabotan dan barang-barang lainnya yang tergeletak dimana-mana tidak beraturan seperti ditinggalkan pemiliknya atau seperti kapal pecah kata kebanyakan orang. Dan inilah ruangan kecil saya. Hehe setelah berfikir sejenak, otak saya yang sangat berharga ini (baca : antik karena jarang digunakan. ^_^) langsung berasumsi bahwa mungkin saja kalimat ‘dunia adalah panggung sandiwara’  ini yang masyhur dikalangan masyarkat Indonesia, merasuk kedalam ruh mereka sedemikian rupa sehingga dengan tidak sadar mereka mencoba merealisasikannya dalam hidup ini dan menjadikannya sebagai prinsip dalam hidup ini dan berebut menjadi seorang pemain di dunia yang penuh dengan sandiwara ini layaknya sinetron. Karena kalau kita mengasumsikan dunia ini adalah panggung sandiwara berarti kita semua ini merupakan tokoh dalam sandiwara yang dibuat tersebut dan yang namanya sandiwara tidak lepas dari kepalsuan dan kebohongan bahkan terkadang membohongi dirinya sendiri walaupun pada dasarnya manusia tidak senang dibohongi.
Benarka begitu? Inikah yang menyebabkan kebanyakan orang mnyikapi sesuatu yang sebenarnya harus di perhatikan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh? Padahal kalo kita lihat dengan kaca mata agama manapun, dunia ini adalah lahan yang harus kita manfaatkan dengan sungguh-sungguh dan apa yang kita lakukan didunia ini aka nada pertanggung jawabannya kelak. Kebaikan yang kita lakukan ataupun keburukan yang kita kerjakan semua memiliki akibat yang nantinya akan kembali kepada diri kita.
Bukan bermaksud menyalakan yang mengatakan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, hanya mencoba melihatnya dari kaca mata agama khususnya Islam dan seperti yang saya katakana sebelumnya otak berharga (baca : antik) ini secara otomatis saling berkoordinasi menghubungkan antara bahasan Ustadz dengan realitas yang terjadi di antara kita seakan-akan hidup ini adalah sandiwara itu sendiri atau permainan yang idak ada tujuan yang ada hanya kesenangan tanpa memikirkan sesuatu dibalik ini semua dalam kehidupan ini.
Di waktu luang ini saya bergegas menuju buku yang merupakan guru dan sahabat setia saya. Amiinn…  ^_^ dikesempatan ini saya mencari sumber-sumber bagaimana seharusnya kita memandang dunia dalam kehidupan ini sehingga tak terjatuh kedalam sandiwara yang tiada akhirnya baik dalam penderitaan ataupun kebahagiaan ini. Berawal dari Quran yang merupakan Panduan hidup kita semua khususnya Muslim yang merupakan pemberian Sang Pencipta.
Dalam al-Quran Q.S. al-Mu’minun : 115
“Maka apakah kamu menyangka bahwa Kami menciptakan mu main-main (tanpa ada maksud), dan bahwa kamu tidak kembali kepada Kami?”
Dari dzohir ayat ini kita akan memahami bahwa hidup ini tidak sia-sia atau untuk disia-siakan dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada nilainya dan tidak memberikan kontribusi terhadap kita di masa depan dan di masa ketika kita akan memetik buah dari amal-amal yang kita lakukan selama hidup ini.  Dan Allah swt menegaskan bahwa kita akan kembali kepada-Nya. Mufassirin mengatakan bahwa di akhir ayat ini merupakan penegasan terhadap adanya Hari Akhir dan menandakan adanya tujuan dari penciptaan kita didunia ini. Dan ayat lain menegaskan berkaitan dengan tugas kita didunia ini dalam Firman-Nya adz-Dzariyat : 56
“Dan tidaklah Kami menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”
Dengan kedua ayat ini kita akan memahami bahwa didunia ini kita memiliki tugas yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah swt dan ketika kita dikembalikan ke sisi-Nya kita akan mendapatkan hasil dari amal yang kita kerjakan didunia ini yang artinya semua apa yang kita lakukan didunia ini tidak ada yang sia-sia baik amal yang baik maupun yang buruknya. Oleh karena itu, kita tidak bisa seenaknya hidup didunia ini dengan mengambil kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangan yang ada tanpa memperdulikan untuk apa sebenarnya kita diciptakan di dunia ini dan keberadaan kita ini apakah akan kita sia-siakan atau kita antarkan diri kita kepada tujuan dari penciptaan yang telah Allah tentukan?
Adapun seperti materialisme yang berkeyakinan hidup hanyalah di dunia materi ini dan tidak meyakini adanya hari kiamat ataupun hari pembalasan dan alam ini tidak memiliki tujuan. Yang artinya dengan musnahnya alam ini semua yang kita usahakan, korbankan dan perjuangkan baik harta maupun kebahagiaan yang didapat juga akan berakhir. Maka pada dasarnya ketika berkeyakinan seperti ini, dunia dan hidup di dunia ini sama sekali tidak memiliki makna layaknya permainan yang hanya melahirkan kesenangan sesaat atau sebaliknya. Maka tak jarang orang yang berkeyakinan seperti ini pada satu titik mengalami kehampaan dalam jiwanya di dunia ini. Sudah banyak pembahasn mengenai hal ini. Da inilah akibat dari keyakinan seperti itu “… Sungguh kami menderita kerugian. Bahkan kami tidak mendapat hasil apapun…” (Q.S. al-Waqiah : 66-67)
Lalu bagaimana kehidupan sebenarnya yang harus kita jalani yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, Ahlulbayt dan Sahabatnya yang Sholeh SholawatullohuAlaihim Ajmain ? karena merekalah yang menjalani kehidupan ini dengan sungguh-sungguh memperhatian setiap detil penciptan dari awal sampai akhir dan menempatkan segala sesuatu dalam hidup ini sesuai dengan tujuan Sang Pecipta dalam penciptaan-Nya. Insya Allah bahasan kita ini akan saya lanjutkan pada kesempatan berikutnya. Namun inti dari artikel kali ini adalah, perhatikanlah dan kenalilah hakikat penciptaan Alam dan kehidupan ini dan berjalanlah diatasnya.
Wallohu A’lam…..

^_^ Arif Permana ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar