Dikelas beberapa
hari yang lalu saya mendengar sebuah kalimat dari sang Ustadz yang mungkin dan
menurut saya memiliki realitas di kehidupan sekarang ini yang terjadi pada
kebanyakan orang. Kalimat itu adalah “bagi manusia sekarang kehidupan sudah
menjadi abstrak dan berganti tempat dintara hakikat dan permainan.” Artinya realita
di zaman sekarang
sesuatu yang harusnya disikapi dengan sungguh-sungguh dianggap sesuatu yang tidak memiliki makna atau nilai di hadapan mereka adapun permainan-permainan yang pada hakikatnya tidak ada nilai apa-apa disikapi dengan sedemikian rupa sehingga itu seakan-akan sangat penting bagi hidupnya untuk dibela dan dipertahankan.
Apakah kalian
sepakat dengan kata-kata tadi? Pasti sepakat karena bagi sebagian orang hal ini
sudah benar-benar terjadi. Mari kita lihat ke sekeliling kita, dimulai
lingkungan sekitar, apakah kalian lihat seseorang ketika berpacaran mereka
berprilaku manis terhadap pasangannya dan rela berkorban sehingga pasangannya
merasa bahagia, Tapi ketika sudah menikah mereka acuh tak acuh terhadap
kebahagiaan istri dan keluarganya? Tidak Terbalik kah? Atau lebih jauh lagi,
apakah kalian pernah lihat orang yang santai-santai dan menganggap tidak ada
apa-apa ketika kehormatan agamanya yang terinjak-injak namun mereka bereaksi
keras dan tak jarang terjadi keributan fisik ketika tim kesayangannya dihinakan
atau ada yang mengolok-olok dengan alasan membela tim kesayangan? Pasti jawaban
semuanya “ya”, termasuk saya, dan itu hanya beberapa dari sekian
peristiwa yang seperti kejadian di atas.
Dengan adanya
hal ini saya jadi teringat dengan sebuah kalimat “bijak” katanya yang
mengatakan Hidup ini adalah panggung sandiwara dan kalian pasti tahu juga karena
kalimat ini begitu masyhur di kalangan masyarakat Indonesia sampai dijadikan
sebuah judul lagu yang juga sangat masyhur dikalangan kita para pemuda maupun
orang tua. Pasti tahu teman-teman semuanya kan…
Saya berfikir sejenak di ruangan yang seperti
tidak ada penghuninya ini. Buku yang tidak pada tempatnya, meja dan kursi yang
tidak bersahabat lagi dan saling menjauh, pakaian, alat tulis, perabotan dan
barang-barang lainnya yang tergeletak dimana-mana tidak beraturan seperti
ditinggalkan pemiliknya atau seperti kapal pecah kata kebanyakan orang. Dan
inilah ruangan kecil saya. Hehe setelah berfikir sejenak, otak saya yang sangat
berharga ini (baca : antik karena jarang digunakan. ^_^) langsung berasumsi
bahwa mungkin saja kalimat ‘dunia adalah panggung sandiwara’ ini yang masyhur dikalangan masyarkat
Indonesia, merasuk kedalam ruh mereka sedemikian rupa sehingga dengan tidak
sadar mereka mencoba merealisasikannya dalam hidup ini dan menjadikannya
sebagai prinsip dalam hidup ini dan berebut menjadi seorang pemain di dunia
yang penuh dengan sandiwara ini layaknya sinetron. Karena kalau kita
mengasumsikan dunia ini adalah panggung sandiwara berarti kita semua ini
merupakan tokoh dalam sandiwara yang dibuat tersebut dan yang namanya sandiwara
tidak lepas dari kepalsuan dan kebohongan bahkan terkadang membohongi dirinya
sendiri walaupun pada dasarnya manusia tidak senang dibohongi.
Benarka begitu?
Inikah yang menyebabkan kebanyakan orang mnyikapi sesuatu yang sebenarnya harus
di perhatikan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh? Padahal kalo kita lihat
dengan kaca mata agama manapun, dunia ini adalah lahan yang harus kita
manfaatkan dengan sungguh-sungguh dan apa yang kita lakukan didunia ini aka
nada pertanggung jawabannya kelak. Kebaikan yang kita lakukan ataupun keburukan
yang kita kerjakan semua memiliki akibat yang nantinya akan kembali kepada diri
kita.
Bukan bermaksud
menyalakan yang mengatakan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, hanya
mencoba melihatnya dari kaca mata agama khususnya Islam dan seperti yang saya
katakana sebelumnya otak berharga (baca : antik) ini secara otomatis saling
berkoordinasi menghubungkan antara bahasan Ustadz dengan realitas yang terjadi
di antara kita seakan-akan hidup ini adalah sandiwara itu sendiri atau
permainan yang idak ada tujuan yang ada hanya kesenangan tanpa memikirkan
sesuatu dibalik ini semua dalam kehidupan ini.
Di waktu luang
ini saya bergegas menuju buku yang merupakan guru dan sahabat setia saya. Amiinn…
^_^ dikesempatan ini saya mencari
sumber-sumber bagaimana seharusnya kita memandang dunia dalam kehidupan ini
sehingga tak terjatuh kedalam sandiwara yang tiada akhirnya baik dalam
penderitaan ataupun kebahagiaan ini. Berawal dari Quran yang merupakan Panduan
hidup kita semua khususnya Muslim yang merupakan pemberian Sang Pencipta.
Dalam al-Quran
Q.S. al-Mu’minun : 115
“Maka apakah
kamu menyangka bahwa Kami menciptakan mu main-main (tanpa ada maksud), dan bahwa
kamu tidak kembali kepada Kami?”
Dari dzohir ayat
ini kita akan memahami bahwa hidup ini tidak sia-sia atau untuk disia-siakan
dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada nilainya dan tidak memberikan
kontribusi terhadap kita di masa depan dan di masa ketika kita akan memetik
buah dari amal-amal yang kita lakukan selama hidup ini. Dan Allah swt menegaskan bahwa kita akan
kembali kepada-Nya. Mufassirin mengatakan bahwa di akhir ayat ini merupakan
penegasan terhadap adanya Hari Akhir dan menandakan adanya tujuan dari
penciptaan kita didunia ini. Dan ayat lain menegaskan berkaitan dengan tugas
kita didunia ini dalam Firman-Nya adz-Dzariyat : 56
“Dan
tidaklah Kami menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”
Dengan kedua
ayat ini kita akan memahami bahwa didunia ini kita memiliki tugas yaitu hanya
untuk beribadah kepada Allah swt dan ketika kita dikembalikan ke sisi-Nya kita
akan mendapatkan hasil dari amal yang kita kerjakan didunia ini yang artinya
semua apa yang kita lakukan didunia ini tidak ada yang sia-sia baik amal yang
baik maupun yang buruknya. Oleh karena itu, kita tidak bisa seenaknya hidup
didunia ini dengan mengambil kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-kesenangan yang
ada tanpa memperdulikan untuk apa sebenarnya kita diciptakan di dunia ini dan
keberadaan kita ini apakah akan kita sia-siakan atau kita antarkan diri kita
kepada tujuan dari penciptaan yang telah Allah tentukan?
Adapun seperti materialisme
yang berkeyakinan hidup hanyalah di dunia materi ini dan tidak meyakini adanya
hari kiamat ataupun hari pembalasan dan alam ini tidak memiliki tujuan. Yang artinya
dengan musnahnya alam ini semua yang kita usahakan, korbankan dan perjuangkan
baik harta maupun kebahagiaan yang didapat juga akan berakhir. Maka pada
dasarnya ketika berkeyakinan seperti ini, dunia dan hidup di dunia ini sama
sekali tidak memiliki makna layaknya permainan yang hanya melahirkan kesenangan
sesaat atau sebaliknya. Maka tak jarang orang yang berkeyakinan seperti ini pada
satu titik mengalami kehampaan dalam jiwanya di dunia ini. Sudah banyak pembahasn
mengenai hal ini. Da inilah akibat dari keyakinan seperti itu “… Sungguh
kami menderita kerugian. Bahkan kami tidak mendapat hasil apapun…” (Q.S.
al-Waqiah : 66-67)
Lalu bagaimana
kehidupan sebenarnya yang harus kita jalani yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad
saw, Ahlulbayt dan Sahabatnya yang Sholeh Sholawatullohu ‘Alaihim
Ajmain ? karena merekalah yang menjalani kehidupan ini dengan
sungguh-sungguh memperhatian setiap detil penciptan dari awal sampai akhir dan
menempatkan segala sesuatu dalam hidup ini sesuai dengan tujuan Sang Pecipta
dalam penciptaan-Nya. Insya Allah bahasan kita ini akan saya lanjutkan pada
kesempatan berikutnya. Namun inti dari artikel kali ini adalah, perhatikanlah
dan kenalilah hakikat penciptaan Alam dan kehidupan ini dan berjalanlah
diatasnya.
Wallohu A’lam…..
^_^ Arif
Permana ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar