Zaman dulu, kota
Kufah merupakan pusat Hukumat/Pemerintahan Islam . seluruh wilayah yang ada di
Negara Besar Islam tersebut kecuali bagian Syam berpusat pada kota tersebut…
Suatu hari Diluar
kota ini dua orang dimana yang satu adalah seorang muslim dan yang lainnya
merupakan Ahli Kitab bertemu di tengah masing-masing perjalanan mereka.
Mereka
pun saling menanyakan tujuan masing-masing dimana orang Muslim sedang menuju
kota Kufah dan seseorang dari Ahli Kitab menuju ke tempat di sekitar daerah
itu. Keduanya pun sepakat untuk berjalan bersama ketika mengetahui mereka
berdua memiliki jalan yang sama meskipun tujuannya berbeda dan ditengah
perjalanan bersama mereka bisa berdiskusi dan saling mengenal.
Dijalan tersebut
dengan adanya obrolan dan kedekatan satu sama lain maka tidak terasa sampailah
mereka di jalan yang akan mengantarkan kepada tujuan mereka masing-masing yang
artinya diperbatasan jalan itu mereka harus berpisah. Tapi Ahli Kitab merasa
terkejut ketika mengetahui bahwa orang Muslim itu tidak bergegas ke jalan
tujuannya tapi mengantarkan dia sampai ketujuannya.
Ahli Kitab bertanya : “Bukankah Anda sudah mengatakan
bahwa Anda mau pergi ke Kota Kufah?
Muslim menjawab : “Iya tadi saya berkata seperti itu.”
Ahli Kitab bertanya lagi : ”lalu kenapa Anda tidak
pergi ke jalan yang satunya lagi dan datang kesini yang merupakan jalan tujuan
saya?
Saya tau, kata
lelaki Muslim menjawab. Dia melanjutkan “saya kesini bermaksud untuk menemani
Anda sebentar diperjalanan ini. karena saya mendengar Rasul saw bersabda :
“ketika dua orang dalam satu perjalanan berjalan bersama dan berdiskusi
bersama, maka satu sama lain memiliki hak dari teman seperjalanannya.” Sekarang Anda memiliki hak atas saya dan oleh
karena itu dengan adanya hak tersebut, merupakan kewajiban saya untuk menemani anda di perjalanan ini meskipun
hanya beberapa langkah lagi. Dan setelah menuaikan kewajiban itu, saya akan kembali ke jalan saya untuk
melanjutkan perjalanan menuju Kufah.
Ahli Kitab dengan
keheranan berkata : “Dia! Nabi kalian bisa sejauh ini memiliki pengaruh dan
kekuatan di tengah masyarakat dan dengan waktu yang singkat Agamanya menyebar
di bumi ini, pasti ini tidak lepas dari
akhlak beliau yang mulia seperti yang engkau tunjukan sekarang.”
Rasa heran dan pujian lelaki Ahli Kitab ini
sedemikian rupa sampai baginya jelas bahwa teman seperjalanan muslimnya itu
merupakan Khalifah waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib kw. Bebearapa waktu
kemudian orang tersebut menjadi Muslim
dan dia termasuk mukmin yang penuh pengorbanan dan menjadi salah satu sahabat
dekat Amirul Mukminin kw. Dikutip dari Dastan e Rastan/ cerita hikmah karya Syahid Muthahhari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar