Sabtu, 14 Maret 2015

Membentuk Masyarakat Ideal 2


Setelah kita mengetahui bahwa penanaman akhlak bagi anggota masyarakat merupakan salah satu cara untuk menuju masyarakat yang ideal dan pondasi akhlak yang kuat dari setiap individu masyarakat memiliki peran penting untuk merealisasikan hal tersebut. Maka berdasarkan hal itu, kini saya akan membahas tentang hal-hal yang dianjurkan dalam hidup bermasyarakat berdasarkan  syariat Islam dan yang sudah di contohkan oleh Nabi kita semua Muhammad saw.
Karena beliau merupakan panutan dan suri tauladan sempurna  bagi kita semuanya.
Allah swt Berfirman :
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul Suri Tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi hamba yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan mereka banyak berdzikir mengingat Allah swt.” (al Ahzab : 21)
Dalam kehidupan masyarakat ini, setiap orang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing  dan syariat Islam yang dibawa  oleh Nabi memiliki tujuan supaya setiap orang mengetahui kewajiban masing-masing terhadap hak sesamanya sehingga hak setiap orang terjaga dan ini merupakan hal yang pokok yang menjadi perhatian Rasululloh saw dalam kehidupan bermasyarakat. Berkaitan dengan bagaimana kita hidup dalam bermasyarakat dan bagaimana kita membentuk ikatan dalam setiap anggota masyarakat, Islam telah mengajarkannya kepada kita dengan sempurna.
Berbeda dengan kehidupan barat, kandungan Agama memiliki pondasi yang kuat ditengah masyarakat dalam keterikatan, keakraban, tolong menolong dan keselarasan dalam hidup setiap individu. Seorang Muslim harus hidup dalam ruang lingkup syariat Islam dan terus beusaha untuk menanamkan ketentuan-ketentuan syariat dalam prilakunya sehingga hidupnya memiliki nilai karena selaras dengan tauladan alam Nabi Muhammad saw. Beberapa hal penting yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini adalah mengenal dan menjaga hak-hak orang lain. Sebagaimana telah kita singgung sebelumnya bahwa setiap individu masyarakat memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang harus dijaga sehingga menciptakan keselarasan dan kenyamanan dalam hidup.
Mengenal hak orang lain dan menjaganya akan menghapus masalah-masalah sosial yang menganggu kenyamanan dalam bermasyarakat. Terdapat banyak sekali riwayat yang menyatakan hak dan kewajiban sesama manusia yang semua itu telah dibahas dalam kitab Risalatul Huquq dari Imam Ali Zainal Abidin yang merupakan Cucu Rasulullah saw namun disini akan saya bahas beberapa diantaranya yang terdapat dalam hadits-hadits Rasululloh saw.
1.     Perhatikan Sikap Kita terhadap orang lain
        Rasul saw bersabda : setiap hal yang kau sukai dari orang lain, maka lakukan juga terhadap orang lain. Dan apa yang kamu tidak sukai dari orang lain, maka jauhilah untuk melakukan terhadap orang lain.
Memang mengatakan hal ini cukup mudah namun dalm melaksanakannya diperlukan kesungguhan yang kuat dalam diri, karena ini merupakan hak paling dasar dan paling penting yang harus kita perhatikan.
2.       Menjaga tangan dan lisan
Rasul Bersabda : “seorang Muslim adalah ketika orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya.”
Artinya kita harus menjaga lisan kita dan tangan kita dari mendzalimi orang lain, sehingga orang lain merasa nyaman dan aman ketika hidup berdampingan dengan kita. Seperti kita tahu bahwa ketika seseorang tidak bisa mengendalikan kedua hal tersebut, maka  bisa dibayangkan kerusakan apa yang akan diciptakan. Terutama lisan, dimana dalam hal ini para ulama sangat memberikan perhatian dalam hal menjaga lisan dan mereka mengatakan bahwa terdapat ratusan dosa yang berbeda yang terdapat pada lisan kecil ini ketika kita tidak mampu menjaganya (bisa dirujuk ke kitab yang khusus membahas dosa lisan). Sepeti yang telah disabdakan Rasul “lisan itu bentuknya kecil namun akibat yang ditimbulkannya sangat besar.”
3.       Tawadhu
Setiap Muslim harus rendah hati di antara muslim lainnya dan menjauhi takabbur atau berbuat sombong yang dengannya setan di usir dari rahmat Allah swt, karna dalam riwayat dikatakan bahwa Takabur adalah pakaian kebesaran Allah swt yang tidak memiliki hak untuk memakai pakaian kebesaran-Nya / sombong kecuali Allah swt tertuma manusia yang hina seperti kita ini. Mudahmudahan kita dijauhkan dari sifat tercela ini.
4.       Selektif dalam menerima kabar
Jangan mendengarkan dan jangan menghiraukan setiap omongan yang ditujukan untuk menghina dan merendahkan Islam atau Muslimin dan jangan menerima setiap kabar yang ditujukan oleh orang fasiq atau munafik yang ditujukan untuk menghancurkan Islam sperti yang telah Kita bahas sebelumnya.
Selain itu, kita pun harus menjaga aib orang lain terutama aib sesama muslim yang jika kita menyebarkannya akan menjatuhkan derajat dan kehormatannya dihadapan masyarakat. dalam hadits dikatakan “wahai muslimin, barang siapa yang mengaku muslim dengan lisannya namun hatinya masih belum, jangan mencari tahu aib dan kesalahan muslim lainnya. Karena barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membuka aibnya dan barang siapa yang aibnya dibuka oleh Allah swt maka kehormatannya akan jatuh.”
5.       Memenuhi dan melaksanakan janji 
     Penuhilah dan laksanakanlah janji yang telah di buat dan hindarilah ingkar janji, dalam Riwayat dari Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad beliau berkata barang siapa yang berjanji tapi dia mengingkarinya maka dia adalah seorang munafik disamping itu Rasulullah saw bersabda : “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka penuhilah janji.”
6.    Terakhir membantu meringankan beban orang lain dengan apa yang kita punya baik itu tenaga, pikiran ataupun harta kita sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Dalam riwayat dikatakan bahwa meringankan beban orang lain memiliki pahala lebih banyak dari pada Shalat, Puasa, Haji dan Thowaf.
Itulah hal-hal yang harus kita ketahui dan kita perhatikan pengmalannya sehingga kita bisa menjaga hak-hak orang lain dan hidup dalam ketentraman. Sebenarnya masih banyak hak-hak yang harus kita ketahui dalam hidup bermasyarakat, seperti salaing berkunjung, menjaga kehormatan sesame, menutupi aib dan seterusnya dan Anda bisa merujuknya kepada kitab Risalatul Huquuq Imam Ali Zainal Abidin atau kitab-kitab akhlak yang muktabar lainnya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih terperinci.

Wallohu A’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar