Postingan kali ini saya akan membahas satu hal yang mungkin jadi pertanyaan
kita semua termasuk saya tentunya. Saya kutip hal ini dari buku Menjawab 110
Isu Aqidah karya Muhammad Husaini Husaini yang menurut saya buku ini
sangat bermanfaat dalam menjawab keraguan-keraguan saya dalam beraqidah. Berikut
Ringkasannya.
Sebagai contoh, Thomas Alfa Edison, penemu
listrik. Betapa ia bersusah payah melakukan invensi yang sarat beban ini. Dan
barangkali jiwanya menjadi tebusan untuk pekerjaan ini. Akan tetapi, ia telah
berhasil menerangi dunia, mengaktifkan pabrik-pabrik. Bagaimana dapat diyakini
ia atau yang lainnya, seperti Louis Pasteur yang menemukan mikroba, yang telah
menyelamatkan jutaan manusia dari kematian, serta puluhan orang sepertinya,
akan dikirim ke jurang neraka dengan alasan mereka tidak beriman? Tetapi
orang-orang yang pada masa hidupnya tidak satu pun pekerjaan yang dibaktikan
untuk kemanusiaan, akan menghuni Firdaus sebagai kediaman abadinya?
Berdasarkan pandangan dunia Islam, hanya mengkaji dan menelaah suatu pekerjaan tidaklah memadai. Akan tetapi, pekerjaan yang bermuatan iman yang membentuk sebagai motivasi dan pendorong perbuatannya. Telah banyak terlihat orang-orang yang membangun rumah sakit, sekolah-sekolah atau bangunan-bangunan sosial lainnya, bahwa tujuan mereka hanyalah pelayanan kemanusiaan terhadap masyarakat sehingga mereka merasa berhutang kepadanya.
Berdasarkan pandangan dunia Islam, hanya mengkaji dan menelaah suatu pekerjaan tidaklah memadai. Akan tetapi, pekerjaan yang bermuatan iman yang membentuk sebagai motivasi dan pendorong perbuatannya. Telah banyak terlihat orang-orang yang membangun rumah sakit, sekolah-sekolah atau bangunan-bangunan sosial lainnya, bahwa tujuan mereka hanyalah pelayanan kemanusiaan terhadap masyarakat sehingga mereka merasa berhutang kepadanya.
Namun sebaliknya, terdapat seseorang yang
melakukan pekerjaan kecil, dengan ketulusan yang sempurna dan motivasi murni
insani dan ruhani.
Kini dokumen-dokumen orang-orang besar ini, baik dari sudut pandang perbuatan maupun dari sudut pandang motivasi, harus dikaji kembali. Tentu saja, motivasi tidak keluar dari beberapa hal di bawah ini:
Kini dokumen-dokumen orang-orang besar ini, baik dari sudut pandang perbuatan maupun dari sudut pandang motivasi, harus dikaji kembali. Tentu saja, motivasi tidak keluar dari beberapa hal di bawah ini:
Pertama, acapkali tujuan utama dari invensi atau
penemuan tersebut adalah sebuah perbuatan destruktif, (seperti penemuan energi
atom yang pertama kalinya dimaksudkan untuk merakit bom atom), sementara
kemasalahatan manusiawinya ditempatkan pada prioritas kedua. Tujuan asli dari
para penemu dan inventor ini bukanlah untuk hal ini (mendatangkan kemaslahatan)
atau hal ini ditempatkan pada sasaran kedua. Kondisi sekelompok penemu ini
sangat jelas.
Kedua, terkadang tujuan penemu adalah
eksploitasi dan popularitas. Sejatinya, mereka tak ubahnya dengan peniaga. Mereka
tidak memiliki tujuan selain mendapatkan keuntungan dan pendapatan. Dan apabila
ada pekerjaan yang lebih menghasilkan, mereka akan segera menggarapnya.
Tentu saja, sekiranya perniagaan semacam ini
dilakukan berdasarkan standar hukum syar'i, tidak termasuk pekerjaan haram dan
pelanggaran, akan tetapi tidak termasuk sebagai perbuatan suci.
Para penemu ini di sepanjang sejarah tidaklah
sedikit. Ciri-ciri khas pemikiran mereka yaitu apabila ada keuntungan yang
lebih besar, misalnya antara industri farmasi yang memberikan keuntungan dua
puluh persen dan industri heroin yangmenghasilkan lima puluh persen, tentu
mereka akan memberikan mengusahakannya meskipun melalui jalan-jalan yang
berbahaya bagi keadaan masyarakat sekalipun.
Keadaan kelompok ini juga jelas. Mereka tidak
menuntut apa-apa dari Tuhan, dan tidak juga dari sesamanya. Dan ganjaran mereka
hanyalah keuntungan dan popularitas yang ingin dicapai.
Ketiga, kelompok ini memiliki motivasi humanis,
atau mereka memiliki motivasi Ilahi, karena mereka percaya kepada Tuhan. Apabila
orang-orang semacam ini memiliki iman dan motivasi Ilahi, yang sebagian dari
mereka tidak demikian, dan apabila tidak memiliki iman dan motivasinya adalah
manusia atau masyarakat, tanpa syak lagi mereka akan mendapatkan ganjaran yang
sesuai dari Allah Swt. Ganjaran ini boleh jadi mereka dapatkan di dunia, dan
mungkin juga di dunia yang lain. Tentu saja Tuhan semesta alam tidak akan
memasung keadilan mereka. Namun, bagiamana? Uraian persoalan ini tidak terang
bagi kita.
Sebatas ini dapat kita katakan bahwa Tuhan tidak
akan mengabaikan ganjaran orang-orang yang melakukan kebaikan ini begitu saja.
(Namun, jika mereka menolak iman karena kekurangan yang tak disengaja (jâhil
qâshir) , masalahnya akan menjadi sangat jelas).
Dalil atas masalah ini, di samping hukum akal, juga disinggung oleh ayat dan riwayat.
Sejauh pengetahuan kita, tidak satu pun dalil yang menyatakan bahwa redaksi "Allah tidak akan mengabaikan ganjaran orang-orang yang melakukan kebaikan" tidak meliputi orang-orang seperti ini. Lantaran orang-orang yang melakukan kebaikan (muhsinîn) yang disebutkan dalam Al-Qur'an tidak hanya ditujukan kepada orang-orang mukmin. Oleh karena itu, kita melihat saudara-saudara Yusuf tatkala mereka datang kepadanya tanpa mereka kenali, sementara mereka beranggapan bahwa Yusuf adalah 'Aziz Mesir (panggilan terhormat untuk seorang penguasa di Mesir-pen.), mereka berkata kepada Yusuf, "Kami melihat engkau adalah bagian dari orang-orang yang baik."
Dalil atas masalah ini, di samping hukum akal, juga disinggung oleh ayat dan riwayat.
Sejauh pengetahuan kita, tidak satu pun dalil yang menyatakan bahwa redaksi "Allah tidak akan mengabaikan ganjaran orang-orang yang melakukan kebaikan" tidak meliputi orang-orang seperti ini. Lantaran orang-orang yang melakukan kebaikan (muhsinîn) yang disebutkan dalam Al-Qur'an tidak hanya ditujukan kepada orang-orang mukmin. Oleh karena itu, kita melihat saudara-saudara Yusuf tatkala mereka datang kepadanya tanpa mereka kenali, sementara mereka beranggapan bahwa Yusuf adalah 'Aziz Mesir (panggilan terhormat untuk seorang penguasa di Mesir-pen.), mereka berkata kepada Yusuf, "Kami melihat engkau adalah bagian dari orang-orang yang baik."
Terlepas dari itu, ayat "Barangsiapa
yang mengamalkan kebaikan walaupun sebiji atom ia akan mendapatkan ganjaran,
dan barangsiapa yang mengamalkan keburukan walaupun sebiji atom, ia akan
mendapatkan keburukannya" dengan jelas juga menyinggung
orang-orang seperti ini.
Dalam hadis dari Ali bin Yaqtin yang menukil
dari Imam Al-Kazhim a.s. disebutkan, "Di antara kaum Bani Israil terdapat
seorang beriman yang memiliki tetangga seorang kafir. Orang yang tidak beriman
ini selalu berbuat kebaikan terhadap jirannya yang kumin itu. Ketika orang
kafir itu meninggal dunia, Tuhan membangunkan baginya rumah yang menjadi
perisai dari api neraka …. Disebutkan bahwa ia mendapatkan ini lantaran
perbuatan baiknya terhadap tetangganya yang mukmin."
Diriwayatkan dari Nabi saw. tentang Abdullah bin
Jadz'an, seorang musyrik jahiliyah dan juga sesepuh suku Quraisy,
"Serendah-rendahnya azab Jahannam adalah yang menimpa Jadz'an."
Rasulullah saw. ditanya, "Mengapa?" Beliau bersabda, "Ia
memberikan makanan kepada orang-orang yang lapar."
Dalam riwayat yang lain, kita membaca bahwa Nabi
saw., bersabda kepada 'Adi bin Hatim, putra Hatim ath-Thai, "Tuhan
mengangkat azab yang menimpa ayahmu lantaran kebaikan dan sikap pemurah yang
dimilikinya."
Kita juga menjumpai hadis dari Imam Jafar Ash-Shadiq a.s. yang menyebutkan, "Sekelompok orang dari Yaman hendak menjumpai Rasulullah saw. dengan maksud untuk berdebat ilmiah dengan beliau. Di antara mereka, ada seorang yang paling tua. Ia berbicara dan menunjukkan sikap permusuhan dan keras kepala di hadapan Nabi saw. Beliau sedemikian kesalnya sehingga nampak kesan pada wajah beliau. Pada saat-saat seperti ini, Jibril turun dan menyampaikan pesan Ilahi, 'Allah Swt. berfirman bahwa orang ini adalah orang pemurah.' Ketika mendengar pesan Jibril itu, kekesalan beliau mereda. Beliau menoleh kepada orang itu dan bersabda, 'Tuhanku mengirimkan pesan seperti ini, dan sekiranya bukan karena itu, aku akan bersikap keras kepadamu, sehingga engkau menjadi pelajaran bagi yang lain.'
Orang itu berkata, 'Apakah Tuhanmu menyukai orang-orang pemurah?' 'Iya', jawab beliau. Orang itu berkata, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya. Aku bersumpah kepada Tuhan yang mengutusmu, hingga kini tidak seorang pun yang berpisah dariku dengan tangan kosong.'"
pertanyaannya adalah, di sebagian ayat dan riwayat disebutkan bahwa iman, bahkan wilâyah (imamah) merupakan syarat dikabulkannya amal dan perbuatan atau masuknya ke dalam surga. Dengan demikian, sebaik-baik amal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak beriman tidak akan diterima di sisi Allah.
Kita juga menjumpai hadis dari Imam Jafar Ash-Shadiq a.s. yang menyebutkan, "Sekelompok orang dari Yaman hendak menjumpai Rasulullah saw. dengan maksud untuk berdebat ilmiah dengan beliau. Di antara mereka, ada seorang yang paling tua. Ia berbicara dan menunjukkan sikap permusuhan dan keras kepala di hadapan Nabi saw. Beliau sedemikian kesalnya sehingga nampak kesan pada wajah beliau. Pada saat-saat seperti ini, Jibril turun dan menyampaikan pesan Ilahi, 'Allah Swt. berfirman bahwa orang ini adalah orang pemurah.' Ketika mendengar pesan Jibril itu, kekesalan beliau mereda. Beliau menoleh kepada orang itu dan bersabda, 'Tuhanku mengirimkan pesan seperti ini, dan sekiranya bukan karena itu, aku akan bersikap keras kepadamu, sehingga engkau menjadi pelajaran bagi yang lain.'
Orang itu berkata, 'Apakah Tuhanmu menyukai orang-orang pemurah?' 'Iya', jawab beliau. Orang itu berkata, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya. Aku bersumpah kepada Tuhan yang mengutusmu, hingga kini tidak seorang pun yang berpisah dariku dengan tangan kosong.'"
pertanyaannya adalah, di sebagian ayat dan riwayat disebutkan bahwa iman, bahkan wilâyah (imamah) merupakan syarat dikabulkannya amal dan perbuatan atau masuknya ke dalam surga. Dengan demikian, sebaik-baik amal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak beriman tidak akan diterima di sisi Allah.
Jawabannya, masalah dikabulkannya amal kebaikan
adalah satu persoalan, dan ganjaran yang sesuai adalah persoalan lain.
Berangkat dari sini, disebutkan di dalam hukum Islam bahwa shalat tanpa
kehadiran hati (khusyu'), atau pelakunya jatuh dalam dosa seperti ghibah, tidak
akan diterima oleh Allah Swt. Oleh karena itu, dikabulkannya amal perbuatan
adalah peringkat amal yang tertinggi. Dalam pembahasan kita ini, apabila ia
berkhidmat kepada manusia dan masyarakat disertai dengan iman, ia akan memiliki
ganjaran yang paling tinggi. Akan tetapi, selain dari itu, secara umum ia akan
mendapatkan ganjaran yang setimpal. Baginya, berada di ambang pintu surga pun
sudah cukup. Ganjaran amal tidak terbatas pada ganjaran Firdaus.
Wallohu A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar