Era globalisasi
merupakan era universal yang tidak mengenal batas dan waktu dan seakan-akan
dunia berada digenggaman kita, begitulah orang-orang mengatakannya ketika
ditanya tentang dunia masa kini. Era ini adalah zaman dimana teknologi
berkembang setiap detiknya dengan riset-riset penting yang dilakukan para Ilmuwan
dan tiada lain hal itu hanya demi kebutuhan dan kemudahan manusia dan termasuk
didalamnya yaitu kemudahan mendapatkan informasi.
Dengan adanya hal tersebut, berita detik-detik peristiwa yang terjadi diberbagai wilayah ataupun
penemuan-penemuan penting yang terbaru bisa langsung diterima oleh masyarakat
dunia dengan adanya teknologi yang mendukung hal tersebut.
Masyarakat luas
pun dimudahkan dalam hal ini untk memperoleh informasi-informasi tersebut baik
lokal maupun global, Terlepas dari hal positif dan negatif yang terkandung
didalamnya atau dampak yang ditimbulkan dari berita tersebut. Karena segala
sesuatu memiliki aspek positif dan negatifnya. Namun dalam hal ini, positif
atau negatifnya dampak yang ditimbulkan ditentukan oleh manusia itu sendiri
sebagai konsumen informasi di era revolusi ini.
Pada dasarnya,
media memiliki kebebasan menyampaikan informasi yang disertai kode etik jurnalistik.
Tapi itu pun tidak lepas dari media-media tertentu yang menebarkan
propaganda-propaganda yang mendorong manusia kepada ketersesatan dan
keterjerumusan dalam perpecahan dan sebagainya. Maka disinilah manusia
khususnya kita sebagai muslim yang cerdas untuk menyikapi informasi yang kita
terima dengan menyaringnya dan meneliti kebenarannya sehingga kita tidak
terjebak kedalam informasi salah yang menjerumuskan.
Allah swt
mengisyaratkan hal ini dalam al Quran dalam Firman-Nya :
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorng yang fasik datang kepadamu dengan
membawa suatu berita maka telitilah (kebenarannya) agar kamu tidak mencelakakan
suatu kaum karena kebodohan (kecerobohannya) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu
itu.”
Para ahli tafsir
mengatakan bahwa meskipun sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sahabat Nabi
saw.* namun ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika seseorang terutama
orang fasik datang membawa berita kepada kita, jangan sesekali langsung menerimanya
tanpa diteliti terlebih dahulu. Dan kita harus menerimanya setelah ditahqiq/di
diteliti kebenarannya sehingga kita mendapatkan keyakinan akan kebenaran kabar
tersebut dan tidak tertipu dengan informasi yang salah yang merugika kita. Dan
para Ulama Ilmu Ushul mengatakan “adapun orang yang ‘adil’ maka tidak masalah
kita langsung menerimanya.”, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam hal
ini. (Tafsir al Amtsal, J. 22 Hal. 155)
Hal penting yang
perlu diperhatikan disini adalah tentang berita yang datang dari seseorang yang
kita percayai dengan sebab-sebab tertentu sperti kebaikannya, keadilannya,
ilmunya ataupun kesholehannya, dan terkadang meskipun sebenarnya dia seorang
fasik dan membawa kabar yang menjerumuskan kita akan mempercayainya dan
mendapatkan keyakinan begitu saja. Begitu pun seseorang yang masyhur dikalangan
masyarakat seperti Ulama, Intelek, Politikus ataupun artis yang dengan
menyandarkan kepada kemasyhurannya kita percaya semua perkataannya begitu saja,
meskipun dia mempropagandakan sesuatu yang menyebabkan perselisihan diantara
kita baik secara individu, kelompok masyarakat ataupun agama tertentu. Seperti
yang terjadi pada sekarang ini dimana perpecahan terjadi dimana-mana yang
menyebabkan hilangnya kepercayaan pada setiap individu, kelompok etnis dan
madzhab tertentu.
Semua itu
(kepercayaan pada seseorang dan kemasyhuran) tidak bisa dijadikan sandaran
sehingga kita bisa menerima kabar darinya begitu saja. Karena para ulama
sepakat dengan mengatakan yang menjadi tolak ukurnya adalah kita harus kembali
kepada isi informasi dari berita itu sendiri dengan meneliti kebenarannya dari
siapapun berita itu datang dan sebagai sandaran dalam ukuran benar tidaknya
informasi tersebut kita bersandar pada Quran dan Hadits Rasul saw. Seperti yang
ditegaskan dalam ayat :
“…maka
berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. (yaitu) mereka yang
mendengarkan suatu perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya. Mereka
itulah yang telah dberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang
mempunyai akal sehat.” (Q.S az Zumar : 17-18)
Disini Allah swt
menyinggung hamba-hamba-Nya di akhir ayat dengan mengatakan mereka adalah
orang-orang yang diberi hidayah dan yang
mempunyai akal sehat. Maka kita bisa pastikan kalo kita mengikuti sesuatu yang
tidak kita ketahui kebenarannya ataupun tidak kita teliti maka kita tidak
termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan tidak menggunakan akal.
Dan Berkaitan
dengan hal ini pun Rasul saw Bersabda :
“Ambillah
yang baik (jelas kebenarannya) dan buanglah yang kotornya (yang mendatangkan
keraguan).”
Artinya setelah
kita melakukan penelitian terhadap informasi yang kita dapatkan maka terimalah
yang menurut akal kita benar dan sesuai dengan syariat dan Siroh Nabi Muhammad
saw. Sehingga jika kita mengikuti perintah tersebut maka kita mendapatkan
hidayah Allah swt untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, dan
percaylah bahwa Allah swt selalu memberikan jalan kepada hambanya yang selalu
ingin menjadi lebih baik.
Di akhir
pembahasan, sebagi mukmin yang cerdas kita hrus senantiasa bersandar kepada
al-Quran dan Hadits yang didalamnya mengandung berbagai solusi bagi setiap
hambanya dalam menghadapi era revolusi teknologi dan informasi seperti ini.
Telebih-lebih di masa ini, propaganda-propaganda yang menjebak kita dalam
kesengsaran dan kehancuran lebih mudah disebarkan oleh musuh-musuh kemanusiaan
dan agama. Khususnya jika propaganda tersebut menyentuh tubuh islam yang
terbagi kedalam beberapa mazhab, hal ini menjadi lubang masuk bagi musuh Islam
untuk menghancurkan islam dari dalam dengan menanam benih perselisihan
didalamnya melalui propaganda tersebut.
Namun hal itu tidak akan berpengaruh jika kita mengikuti apa yang Allah
dan Rasul-Nya perintahkan kepada kita seperti yang telah kita bahas diatas.
Sehingga kita jadi mukmin yang memiliki pondasi iman yang kuat yang tidak mudah
digoyahkan olehmusuh-musuh Islam.
Alah swt
berfirman :
“Katakanlah, ‘taatlah kepada Allah dan kepada
Rsaul;Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu
hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajibanmu hanyalah apa yang
dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban
Rasul adalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas’.” (Q.S. an-Nuur : 54)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar