Rabu, 11 Maret 2015

Menjadi Mukmin Cerdas di Era Revolusi Teknologi dan Informasi


Era globalisasi merupakan era universal yang tidak mengenal batas dan waktu dan seakan-akan dunia berada digenggaman kita, begitulah orang-orang mengatakannya ketika ditanya tentang dunia masa kini. Era ini adalah zaman dimana teknologi berkembang setiap detiknya dengan riset-riset penting yang dilakukan para Ilmuwan dan tiada lain hal itu hanya demi kebutuhan dan kemudahan manusia dan termasuk didalamnya yaitu kemudahan mendapatkan informasi.
Dengan adanya hal tersebut, berita detik-detik peristiwa yang terjadi diberbagai wilayah ataupun penemuan-penemuan penting yang terbaru bisa langsung diterima oleh masyarakat dunia dengan adanya teknologi yang mendukung hal tersebut.
Masyarakat luas pun dimudahkan dalam hal ini untk memperoleh informasi-informasi tersebut baik lokal maupun global, Terlepas dari hal positif dan negatif yang terkandung didalamnya atau dampak yang ditimbulkan dari berita tersebut. Karena segala sesuatu memiliki aspek positif dan negatifnya. Namun dalam hal ini, positif atau negatifnya dampak yang ditimbulkan ditentukan oleh manusia itu sendiri sebagai konsumen informasi di era revolusi ini.
Pada dasarnya, media memiliki kebebasan menyampaikan informasi yang disertai kode etik jurnalistik. Tapi itu pun tidak lepas dari media-media tertentu yang menebarkan propaganda-propaganda yang mendorong manusia kepada ketersesatan dan keterjerumusan dalam perpecahan dan sebagainya. Maka disinilah manusia khususnya kita sebagai muslim yang cerdas untuk menyikapi informasi yang kita terima dengan menyaringnya dan meneliti kebenarannya sehingga kita tidak terjebak kedalam informasi salah yang menjerumuskan.
Allah swt mengisyaratkan hal ini dalam al Quran dalam Firman-Nya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorng yang fasik datang kepadamu dengan membawa suatu berita maka telitilah (kebenarannya) agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohannya) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Para ahli tafsir mengatakan bahwa meskipun sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sahabat Nabi saw.* namun ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika seseorang terutama orang fasik datang membawa berita kepada kita, jangan sesekali langsung menerimanya tanpa diteliti terlebih dahulu. Dan kita harus menerimanya setelah ditahqiq/di diteliti kebenarannya sehingga kita mendapatkan keyakinan akan kebenaran kabar tersebut dan tidak tertipu dengan informasi yang salah yang merugika kita. Dan para Ulama Ilmu Ushul mengatakan “adapun orang yang ‘adil’ maka tidak masalah kita langsung menerimanya.”, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam hal ini. (Tafsir al Amtsal, J. 22 Hal. 155)
Hal penting yang perlu diperhatikan disini adalah tentang berita yang datang dari seseorang yang kita percayai dengan sebab-sebab tertentu sperti kebaikannya, keadilannya, ilmunya ataupun kesholehannya, dan terkadang meskipun sebenarnya dia seorang fasik dan membawa kabar yang menjerumuskan kita akan mempercayainya dan mendapatkan keyakinan begitu saja. Begitu pun seseorang yang masyhur dikalangan masyarakat seperti Ulama, Intelek, Politikus ataupun artis yang dengan menyandarkan kepada kemasyhurannya kita percaya semua perkataannya begitu saja, meskipun dia mempropagandakan sesuatu yang menyebabkan perselisihan diantara kita baik secara individu, kelompok masyarakat ataupun agama tertentu. Seperti yang terjadi pada sekarang ini dimana perpecahan terjadi dimana-mana yang menyebabkan hilangnya kepercayaan pada setiap individu, kelompok etnis dan madzhab tertentu.
Semua itu (kepercayaan pada seseorang dan kemasyhuran) tidak bisa dijadikan sandaran sehingga kita bisa menerima kabar darinya begitu saja. Karena para ulama sepakat dengan mengatakan yang menjadi tolak ukurnya adalah kita harus kembali kepada isi informasi dari berita itu sendiri dengan meneliti kebenarannya dari siapapun berita itu datang dan sebagai sandaran dalam ukuran benar tidaknya informasi tersebut kita bersandar pada Quran dan Hadits Rasul saw. Seperti yang ditegaskan dalam ayat :
“…maka berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. (yaitu) mereka yang mendengarkan suatu perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya. Mereka itulah yang telah dberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Q.S az Zumar : 17-18)
Disini Allah swt menyinggung hamba-hamba-Nya di akhir ayat dengan mengatakan mereka adalah orang-orang yang diberi  hidayah dan yang mempunyai akal sehat. Maka kita bisa pastikan kalo kita mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya ataupun tidak kita teliti maka kita tidak termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan tidak menggunakan akal.
Dan Berkaitan dengan hal ini pun Rasul saw Bersabda :
“Ambillah yang baik (jelas kebenarannya) dan buanglah yang kotornya (yang mendatangkan keraguan).”
Artinya setelah kita melakukan penelitian terhadap informasi yang kita dapatkan maka terimalah yang menurut akal kita benar dan sesuai dengan syariat dan Siroh Nabi Muhammad saw. Sehingga jika kita mengikuti perintah tersebut maka kita mendapatkan hidayah Allah swt untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, dan percaylah bahwa Allah swt selalu memberikan jalan kepada hambanya yang selalu ingin menjadi lebih baik.
Di akhir pembahasan, sebagi mukmin yang cerdas kita hrus senantiasa bersandar kepada al-Quran dan Hadits yang didalamnya mengandung berbagai solusi bagi setiap hambanya dalam menghadapi era revolusi teknologi dan informasi seperti ini. Telebih-lebih di masa ini, propaganda-propaganda yang menjebak kita dalam kesengsaran dan kehancuran lebih mudah disebarkan oleh musuh-musuh kemanusiaan dan agama. Khususnya jika propaganda tersebut menyentuh tubuh islam yang terbagi kedalam beberapa mazhab, hal ini menjadi lubang masuk bagi musuh Islam untuk menghancurkan islam dari dalam dengan menanam benih perselisihan didalamnya melalui propaganda tersebut.  Namun hal itu tidak akan berpengaruh jika kita mengikuti apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan kepada kita seperti yang telah kita bahas diatas. Sehingga kita jadi mukmin yang memiliki pondasi iman yang kuat yang tidak mudah digoyahkan olehmusuh-musuh  Islam.
Alah swt berfirman :
“Katakanlah, ‘taatlah kepada Allah dan kepada Rsaul;Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajibanmu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban Rasul adalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas’.” (Q.S. an-Nuur : 54)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar