يأيهالنّاس إنّا جعلنكم من ذكر وأنسى وجعلناكم شعوباوقبائل لتعارفوا
... (الحجرات : ١٣)
“Wahai manusia,
sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-lki dan seorang perempuan,
kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal…”
Dalam Q.S Al
Hujurat ayat 13 ini Allah mengisyaratkan bahwa Allah menciptakan manusia
berbeda-beda, dimulai dari tempat ia tinggal, bakatnya, kemampuan fisiknya,
kemampuan spiritualnya dan emosionalnya. Allah menjadikan sebagian manusia
unggul atas sebagian yang lain dalam hal tertentu
sementara sebagian yang lainnya itu sering unggul dalam hal-hal lainnya. Maka semua manusia saling bergantung satu sama lainnya untuk mengisi kekurangannya dan membutuhkan kelebihan yang orang lain miliki sehingga ada hasrat untuk saling mengenal dan saling bekerja sama.
sementara sebagian yang lainnya itu sering unggul dalam hal-hal lainnya. Maka semua manusia saling bergantung satu sama lainnya untuk mengisi kekurangannya dan membutuhkan kelebihan yang orang lain miliki sehingga ada hasrat untuk saling mengenal dan saling bekerja sama.
Dengan demikian,
kehidupan soaial merupakan kebutuhan manusia dalam kehidupannya untuk mencapai
kebahagiaan maka terbentuklah suatu komunitas atau kumpulan individu yang
saling membutuhkan tersebut. Komunitas ini disebut Masyarakat yang tersebar
diberbagai wilayah di belahan bumi ini. Setiap masyarakat dalam satu wilayah
memiliki pandangn khusus, pola pikir yang khusus, dan standar yang khusus pula.
Hal itu semata-mata diciptakan untuk mencapai tujuan bersama untuk menjadi
masyarakat yang teratur dan Ideal yaitu suatu tatanan masyarakat yang memberikan
kenyamanan, keamanan dan ketentraman.
Banyak
nilai-nilai yang harus diperjuangkan untuk menciptakan masyarakat yang ideal,
dan masyarakat yang menjadi faktor ketenangan dan kenyamanan insan yang
termasuk didalamnya sebagai anggota masyarakat. Nilai terpenting dalam membentuk
masyarakat tersebut adalah penanaman akhlaq pada setiap individunya. Seperti
dalam hadits ketika Rasul saw bersabda : ‘Tidaklah aku diutus kecuali
untuk menyempurnakan Akhlak yang Mulia,” hadits ini menegaskan bahwa
kehidupan berakhlak memiliki peran penting untuk menuju kebahagiaan setiap
individu maupun masyarakat.
Seperti yang
sudah diketahui bahwa setiap masyarakat di suatu wilayah memiliki adat berbeda
yang mengikat dan mempengaruhi karakter seseorang. Dengan adanya perbedaan
adat, pandangan dan pola pikir yang menyebabkan nilai moral masyarakat yang
satu dengan yang lainnya terdapat beberapa perbedaan. Seperti fenomena-fenomena
yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti suatu kebiasaan yang kita
anggap baik namun ketika kita pergi ke suatu tempat yang lain maka hal tersebut
tidak baik dan seterusnya. Untuk menyikapi perbedaan itu, disini setiap agama
dan khususnya Islam memberi cakupan umum tentang nilai moral suatu masyarakat
yang universal sehingga diterima semua masyarakat di dunia ini. Hal ini
memberikan keselarasan dan aturan yang jelas bagi setiap insan dan menyeluruh
berkaitan dengan akhlaq dalam bermasyarakat.
Akhlaq mulia
memiliki pengaruh terhadap tegaknya sebuah tatanan masyarakat karena akhlak
mulia adalah dasar ditegakannya perintah Allah swt. Sebaliknya akhlaq yang
tercela adalah penyebab hancurnya masyarakat yang telah terbentuk, karena
setiap manusia memiliki keinginan dan ambisi yang berbeda. Jika jiwa dihiasi
dengan Akhlak yang mulia maka tidak diragukan dia akan mengagungkan
Syi’ar-syi’ar Allah dan komitmen dijalan-Nya.
Akhlaq manusia
memiliki derajat tertinggi dan sangat baik bagi kehidupan pribadi, masyarakat
ataupun agama. Dan ketika sebuah masyarakat memiliki pondasi akhlak yang kuat
yang tertanam dalam setiap individu masyarakat, maka akan tercipta masyarakat
yang ideal yang memberikan kebahaian, kenyamanan dan ketentraman bagi setiap
anggotanya. Pada dasarnya setiap manusia
memiliki pengetahuan dan bisa menilai tentang baik-dan buruknya sesuatu, karna
itu muncul dari fitrah kita sebagai manusia yang cinta akan kebaikan.
Namun disini Islam memberikan perintah (syariat)
yang merupakan tolok ukur dalam bagaimana kita berprilaku dan berakhlak yang
dengannya tidak ada hak-hak orang lain ataupun kewajiban kita yang terlewat
ketika kita bergaul dengan sesama manusia. Dan beberapa diantaranya akan kita
bahas di kesempatan berikutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar