Sabtu, 26 Maret 2016

UNTUK PARA GURU

Seorang guru bukan hanya
mengajarkan atau mentransfer
pengetahuan, konsep, rumus dan
formula saja kepada murid-muridnya dan
selesai. Faham tidaknya siswa
terhadap pelajaran dan bisa tidaknya
dalam mengerjakan soal-soal ujian
bukanlah tujuan dalam mendidik. Jangan jadikan
peserta didik seperti sebuah kolam
yang hanya diisi air dan dibiarkan
menggenang begitu saja dan tak terurus.
Seorang guru juga memiliki tugas yang
lebih mulia dari pada itu, yaitu :
1. mendidik kekuatan akal, logika,
fikiran dan menanamkan gemar berfikir pada peserta didik.
Ilmu itu memiliki ruang yang sangat
luas yang tidak hanya terbatas dari
penjelasan guru saja, siswa yang tidak
dididik hal seperti ini hanya akan puas
dari apa yang dikatakan gurunya saja
dan selama hidupnya akan seperti
rekaman yang hanya menyampaikan
itu-itu saja dan ilmu yang dimilikinya
tidak berkembang.
Sebagai mana telah di singgung oleh
seorang Pemikir Islam Syahid Murtadha
Muthahari, Guru tidak dibenarkan terus
menjejali otak pelajar dengan
pengetahuan-pengetahuan yang beraneka ragam
yang akan merusak kinerja otaknya,
melainkan harus diberikan ruang untuk
berfikir yang bisa mengolah setiap ilmu
yang didapat dan menghasilkan
pemikiran-pemikiran yang baru. Layaknya lambung
yang tidak akan bekerja maksimal dan
bahkan rusak jika dijejali dan dipenuhi
dengan makanan. Inilah pentingnya
guru mendidik akal siswa dan
memberikan ruang untuk berfikir bagi
setiap siswanya. Kecintaan dalam
berfikir dan kekuatan akal yang sudah
terlatih membantu peserta didik untuk
menganlisa masalah-masalah keilmuan yang
ada dan bahkan bisa menghasilkan
hasil pemikiran baru yang orisinil.
Semua ilmuwan pun bermodal dari hal
ini.
2. Mendidik akhlaq para peserta didik
untuk melahirkan generasi manusiawi
yang memahami arti kemanusiaan.
Akhlak merupakan jalan menuju
TAZKIYAT AN NAFS (penyucian diri),
para ulama mengatakan bahwa
Tazkiyat an Nafs harus lebih
didahulukan bagi seorang pencari ilmu
karna itu sangat penting dalam fase
pencarian ILMU. Al Quran juga
mengisyaratkan hal ini dengan
mendahulukn Tazkiyah (penyucian diri)
sebelum Ta'lim (belajar) ketika
menjelaskan cara Utusan-Nya saw
mendidik umatnya.
" ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻌَﺚَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﻣِّﻴِّﻴﻦَ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ
ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤﻜﻤﺔ ..."
"
al Jumuah : 2
Dalam ayat ini, Rasul saw melakukan
fase penyucian jiwa ummatnya sebelum
mengajarkan mereka al Kitab dan al
Hikmah (as Sunnah).
Ilmu tanpa adanya penyucian diri hanya
akan menciptakan orang2 licik, korup,
arogan, penipu dan lain sebagainya.
Berdasrakan hal ini pendidikan akhlak
harus menjadi prioritas para guru,
karena guru memiliki andil dalam baik
buruknya satu generasi, oleh karenanya
ini merupakan hal penting yang tidak
boleh luput dan tidak layak dilupakan
atau ditinggalkan.
Dan terus ingatlah selalu bahwa
mengajar dan mendidik adalah
pekerjaan para Nabi, banggalah
menjadi seorang pendidik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar